Opini

Kenangan IMLF-4: Secarik Kenangan Berbentuk Tulisan yang Abadi

Oleh: Usman Arif Habibi (usman_arif_habibi@uinib.ac.id)   The 4th International Minangkabau Literacy Festival (IMLF-4). Lima hari itu berlalu begitu cepat. Entah karena kesibukan yang tidak memberi ruang untuk berhenti, atau karena terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu yang singkat. Yang pasti, ketika saya mencoba mengingatnya kembali, semuanya terasa seperti baru dimulai kemarin.   Keringat yang …

Kenangan IMLF-4: Secarik Kenangan Berbentuk Tulisan yang Abadi Selengkapnya »

Dari Volunteer Jadi Panitia: Perjalanan Berharga di IMLF-4

Oleh: Evelina Limbernia, S. Hum The 4th International Minangkabau Literacy Festival (IMLF-4) menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Keterlibatan saya dalam festival ini memiliki makna tersendiri karena tahun lalu saya berpartisipasi sebagai volunteer. Sedangkan pada IMLF-4 tahun ini  dipercaya menjadi bagian dari kepanitiaan. Perubahan peran ini memberikan pengalaman dan sudut pandang yang berbeda dalam …

Dari Volunteer Jadi Panitia: Perjalanan Berharga di IMLF-4 Selengkapnya »

100 Buku, 100 Meter Kaligrafi, dan Kartu Pos yang Tak Lekang oleh Waktu

Oleh: Shintalya Di tengah semaraknya perhelatan Internasional Minangkabau Literacy Festival (IMLF), denyut literasi terasa begitu hidup. Tidak hanya menjadi ruang pertemuan para pecinta sastra dan budaya dari berbagai penjuru dunia, acara ini juga menjadi saksi bagaimana kata-kata, aksara, dan jejak sejarah berpadu dalam satu rangkaian acara yang meninggalkan jejak dalam ingatan para pengunjung dan peserta. …

100 Buku, 100 Meter Kaligrafi, dan Kartu Pos yang Tak Lekang oleh Waktu Selengkapnya »

Peluncuran Dua Buku Satupena: Dari Lumpur Sumatra ke Luka Orde Baru

Catatan: Jonminofri Nazir Satupena meluncurkan dua buku baru dalam Webinar Edisi 189, Kamis malam, 7 Mei 2026. Pesertanya lebih ramai dari biasanya. Lebih penting lagi, mereka bukan hanya hadir untuk mengisi daftar absensi digital, lalu menghilang. Diskusi berlangsung hidup. Orang berbeda pendapat, tetapi tetap dengan dada lapang. Di zaman ketika media sosial berubah menjadi arena …

Peluncuran Dua Buku Satupena: Dari Lumpur Sumatra ke Luka Orde Baru Selengkapnya »

Merekam Muktamar dari Pinggir, Buku Orang Minang Meliput Muktamar NU

Oleh: YURNALDI (Wartawan Utama, Penulis dan Editor Puluhan Buku, Sastrawan, Mentor Jurnalistik dan Sastra, Konsultan Literasi)   Di tengah tradisi penulisan tentang Nahdlatul Ulama (NU) yang kerap bertumpu pada tokoh besar dan keputusan elite, buku Orang Minang Meliput Muktamar NU karya Armaidi Tanjung hadir dengan pendekatan berbeda: ia memilih berdiri di pinggir. Buku ini tidak …

Merekam Muktamar dari Pinggir, Buku Orang Minang Meliput Muktamar NU Selengkapnya »

Selamat Jalan, Iyut Fitra – Penyair Yang Memeluk Kata Sampai Ajal

Oleh: Sastri Bakry Kabar itu datang tiba-tiba. Meski tak begitu mengejutkan, lukanya tetap dalam: Iyut Fitra berpulang. Penyair yang puisinya setajam keris, esainya sehangat kopi pagi di Padang, tawanya serenyah kerupuk sanjai Bukittinggi, dan suaranya yang menggema di Lembah Harau itu, kini telah pergi. Iyut Fitra (Zulfitra) menghembuskan napas terakhir di RS M. Djamil, Padang, …

Selamat Jalan, Iyut Fitra – Penyair Yang Memeluk Kata Sampai Ajal Selengkapnya »

Membaca: Mitos atau Realitas?

Oleh: Sastri Bakry (sastrawan Indonesia, Pegiat Literasi, Koordinator Jaringan Sastra BRICS Indonesia.) Saya beberapa hari lalu menikmati suasana perpustakaan Jakarta. Cuaca panas Jakarta tak lagi terasa ketika sudah berada di gedung yang sejuk dan indah ini. Biasanya saya hanya akrab dengan perpustakaan dan dokumentasi Pds HB Jassin . Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin terletak di …

Membaca: Mitos atau Realitas? Selengkapnya »

Tentang Dayung yang Tak Berhenti

Oleh: Lidya Arista (Wakil Ketua Banat Angkatan Fulkunnajihin KMM, Mesir). Di balik riuhnya hiruk-pikuk agenda yang berbeda-beda, terdapat sebuah ruang tamu kecil di rumah Rio. Ruangan itu menjadi saksi bisu perjuangan kabinet angkatan Fulkunnajihin. Karena saking seringnya dijadikan markas rapat, mereka menjulukinya Sekretariat Fulkunnajihin. Siang itu, udara terasa lebih berat dari biasanya. Agenda besar angkatan …

Tentang Dayung yang Tak Berhenti Selengkapnya »

Menghidupkan Semangat Literasi di Kairo: Cairo International Book Fair

Oleh Sastri Bakry* Saya merasa tersanjung disambut pak Havis, protokol KBRI persis di ujung belalai pesawat. Tentu saja jalur cepat saya peroleh. Tak perlu antri lama. Kemudian tak lama berjalan, panitia yang bertuliskan nama saya menunggu dengan senyuman. “Selamat datang Ibu” Wah luar biasa dua orang Mesir menjemput dengan instansi berbeda, tetapi bisa berbahasa Indonesia. …

Menghidupkan Semangat Literasi di Kairo: Cairo International Book Fair Selengkapnya »