Oleh: Shintalya
Di tengah semaraknya perhelatan Internasional Minangkabau Literacy Festival (IMLF), denyut literasi terasa begitu hidup. Tidak hanya menjadi ruang pertemuan para pecinta sastra dan budaya dari berbagai penjuru dunia, acara ini juga menjadi saksi bagaimana kata-kata, aksara, dan jejak sejarah berpadu dalam satu rangkaian acara yang meninggalkan jejak dalam ingatan para pengunjung dan peserta.
Berlokasi di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta dan kawasan Istana Bung Hatta, agenda peluncuran 100 buku berlangsung khidmat sekaligus meriah. Para delegasi dari mancanegara dan berbagai daerah di Indonesia hadir membawa karya terbaik mereka, buah pemikiran, pengalaman, dan refleksi budaya yang kini menemukan ruang perjumpaan di tanah Minangkabau.
Peluncuran 100 buku ini menjadi salah satu agenda penting IMLF yang dibuka langsung oleh Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Momen tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan bahwa literasi tetap menjadi jembatan yang menghubungkan bangsa, generasi, dan kebudayaan. Dalam sambutan sekaligus pengantar masuk dalam seminar literasi, Prof. Dr. Endang Aminudin Aziz, M.A, beliau tidak lupa mengutip beberapa ungkapan Bung Hatta yang terkenal, antara lain:
“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
“Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita.”
Di sela peluncuran, seminar literasi, bahasa, dan kebudayaan Minangkabau turut digelar, membahas bagaimana tradisi lokal dapat terus hidup dan berdialog dengan dunia global tanpa kehilangan jati dirinya.
Sementara itu, suasana di Istana Bung Hatta menghadirkan warna yang berbeda. Pameran dan penjualan buku ramai dikunjungi peserta festival maupun masyarakat umum. Buku-buku tersusun rapi, menawarkan beragam perspektif: sastra, sejarah, budaya, hingga pemikiran lintas bangsa.
Namun bukan hanya buku yang menyita perhatian. Sebuah karya kaligrafi sepanjang 100 meter menjadi magnet tersendiri, seolah membentangkan lorong visual yang menghubungkan seni dengan spiritualitas. Mahakarya dan koleksi buku dari Prof Yusuf Liu, akademisi sekaligus pemerhati budaya dari Malaysia.
Sentuhan lintas negara terasa begitu nyata, menegaskan bahwa IMLF bukan hanya panggung lokal, tetapi ruang dialog internasional yang mempertemukan pemikiran dan kreativitas dari berbagai latar budaya.
Di antara buku-buka yang dipamerkan, ada juga kartu-kartu pos tentang Bukittinggi dan acara 100 tahun jam gadang, tersusun rapi memikat hati pengunjung pameran.
Benda kecil yang mungkin mulai jarang digunakan di era digital itu justru menghadirkan nostalgia. Ada rasa hangat ketika membayangkan pesan singkat yang pernah menempuh perjalanan jauh, membawa kabar, rindu, bahkan kenangan. Kartu pos seakan menjadi pengingat bahwa komunikasi tak selalu harus cepat; terkadang, sesuatu yang menunggu justru lebih membekas dalam ingatan.
IMLF kali ini membuktikan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis. Ia hidup dalam rupa buku yang diluncurkan, dalam guratan kaligrafi sepanjang seratus meter, dalam seminar kebudayaan, hingga pada kartu pos yang tak lekang oleh waktu.
Sebuah perayaan pengetahuan yang tidak hanya dipandang, tetapi juga dirasakan, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu tarikan napas budaya.
Bukittinggi, 6 Juni 2026

