Peluncuran Dua Buku Satupena: Dari Lumpur Sumatra ke Luka Orde Baru

Catatan: Jonminofri Nazir

Satupena meluncurkan dua buku baru dalam Webinar Edisi 189, Kamis malam, 7 Mei 2026. Pesertanya lebih ramai dari biasanya. Lebih penting lagi, mereka bukan hanya hadir untuk mengisi daftar absensi digital, lalu menghilang. Diskusi berlangsung hidup. Orang berbeda pendapat, tetapi tetap dengan dada lapang. Di zaman ketika media sosial berubah menjadi arena lempar sandal dan umpatan, suasana seperti ini terasa mewah.

Buku pertama membahas bencana besar di Sumatra pada akhir 2025. Editor Satrio menghimpun 40 tulisan anggota Satupena dalam buku berjudul Sumatra Menangis, Menggugah Kemanusiaan Kita. Buku kedua mengangkat tema yang jauh lebih panas dan lebih berisik: pro dan kontra pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto. Judulnya panjang juga, seperti utang sejarah bangsa ini: Mengikhlaskan Soeharto sebagai Pahlawan dengan Banyak Catatan.

Menariknya, buku tentang bencana Sumatra justru lebih tebal. Isinya dipenuhi puisi dan puisi esai. Rupanya banjir air, banjir lumpur, dan banjir batang pohon gelondongan lebih mudah mengguncang batin ketimbang banjir perdebatan politik. Ketika manusia melihat penderitaan di depan mata, kata-kata sering berubah menjadi puisi. Kadang puisi memang lahir bukan karena penyair rajin membaca teori sastra, tetapi karena hati manusia terlalu sesak untuk menulis status Facebook biasa.

Sebaliknya, dalam buku tentang Soeharto, puisi lebih sedikit. Barangkali karena sebagian penulis sudah cukup jauh dari zaman Orde Baru. Luka sejarah memang aneh. Semakin lama, sebagian berubah menjadi pelajaran. Sebagian lagi berubah menjadi nostalgia. Dan yang paling berbahaya: sebagian berubah menjadi amnesia nasional.

Buku Mengikhlaskan Soeharto sebagai Pahlawan dengan Banyak Catatan pada dasarnya merekam benturan pandangan di tubuh Satupena sendiri. Ada yang setuju Soeharto diberi gelar Pahlawan Nasional. Alasannya jelas: swasembada beras, pembangunan infrastruktur, stabilitas politik, pendidikan, dan sederet capaian lain selama 32 tahun berkuasa. Pendukung kelompok ini cenderung mengajak publik untuk move on. Mereka mengakui Soeharto punya dosa politik, tetapi juga merasa seorang manusia tidak mungkin hanya terdiri dari dosa semata. Mereka ingin melihat prestasi, tanpa harus memutihkan semua noda.

Tetapi kelompok lain mengingatkan: mencari teladan tidak bisa dilakukan sambil menutup mata sebelah. Mereka mengungkit penembakan misterius, Peristiwa Tanjung Priok, tragedi Lampung, dan berbagai kasus pelanggaran HAM lain. Daftarnya panjang. Sangat panjang. Negeri ini memang punya bakat luar biasa dalam menumpuk tragedi tanpa pernah benar-benar menuntaskannya.

Diskusi menjadi lebih menggigit ketika pengalaman pribadi muncul. Isti Nugroho bercerita bahwa ia pernah divonis delapan tahun penjara hanya karena menjual dan mendiskusikan buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Delapan tahun hidup di Nusa Kambangan tentu bukan pengalaman yang mudah disimpan rapi dalam kotak “mari kita lupakan masa lalu”.

Pak Paulus Laramate dari Papua juga menyampaikan kisah yang menyeramkan. Ia menyaksikan sejumlah orang diangkut menggunakan pesawat Hercules ke suatu tempat yang tak pernah jelas ujungnya. Pesawat kembali kosong. Penumpangnya hilang seperti banyak bagian sejarah Indonesia yang entah sengaja dihapus, entah dibiarkan kabur demi kenyamanan politik.

Dua kutub itulah yang membuat buku ini menarik. Ia bukan buku puja-puji, tetapi juga bukan kitab kutukan. Ia memperlihatkan bagaimana bangsa ini masih terus berunding dengan masa lalunya sendiri. Kadang dengan kepala dingin. Kadang dengan emosi. Kadang dengan ingatan yang bolong-bolong.

Dari webinar itu muncul beberapa usulan menarik. Pertama, Satupena daerah sebaiknya lebih sering menggelar diskusi buku secara offline. Orang Indonesia terlalu lama bertengkar lewat komentar daring. Sesekali duduk bersama sambil minum kopi mungkin bisa mengurangi kebiasaan menganggap lawan diskusi sebagai musuh peradaban.

Kedua, Satupena diharapkan makin rutin menerbitkan buku kumpulan tulisan anggota. Setelah itu buku-buku tersebut didiskusikan, baik secara daring maupun tatap muka di daerah-daerah. Sebab komunitas penulis yang sehat bukan hanya rajin menulis, tetapi juga rajin memperdebatkan pikirannya sendiri.

Peluncuran dua buku ini juga sekaligus menjadi bagian dari perayaan ulang tahun Satupena ke-9 yang jatuh pada 29 April 2026. Sembilan tahun bukan usia yang pendek untuk komunitas literasi di Indonesia. Banyak komunitas lahir dengan semangat revolusi, lalu mati pelan-pelan karena pengurusnya sibuk rebutan jabatan grup WhatsApp.

Karena itu, semoga Satupena terus tumbuh. Bukan hanya semakin besar, tetapi juga semakin berguna bagi anggotanya dan bagi publik. Sebab di negeri yang sering lebih ribut daripada berpikir, ruang diskusi yang waras adalah barang langka. Dan barang langka, seperti biasa, justru paling mahal nilainya. ***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *