Kenangan IMLF-4: Secarik Kenangan Berbentuk Tulisan yang Abadi

Oleh: Usman Arif Habibi

(usman_arif_habibi@uinib.ac.id)

 

The 4th International Minangkabau Literacy Festival (IMLF-4). Lima hari itu berlalu begitu cepat. Entah karena kesibukan yang tidak memberi ruang untuk berhenti, atau karena terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu yang singkat. Yang pasti, ketika saya mencoba mengingatnya kembali, semuanya terasa seperti baru dimulai kemarin.

 

Keringat yang belum sempat benar-benar kering, langkah yang mulai terasa berat, mata yang sayu karena kurang tidur, hingga hati yang berkali-kali berteriak pelan, “aku lelah.” Di tengah padatnya aktivitas, bahkan ada shalat yang terpaksa dikerjakan di penghujung waktu karena tuntutan tugas yang seakan tidak pernah selesai. Namun di tengah segala kelelahan itu, waktu terus bergerak tanpa memberi kesempatan untuk beristirahat.

 

Perlahan, tugas demi tugas mulai menemukan ujungnya. Kesibukan yang sebelumnya terasa tak bertepi mulai menunjukkan tanda-tanda akhir. Koper para peserta dan panitia mulai disusun. Barang-barang yang selama beberapa hari memenuhi sudut-sudut lokasi kegiatan mulai dirapikan. Semua itu seolah menjadi pertanda bahwa sebuah perjalanan akan segera selesai.

 

Satu per satu peserta mulai meninggalkan lokasi kegiatan. Ada yang berpamitan sambil berjabat tangan, ada yang mengabadikan foto untuk terakhir kalinya, dan ada pula yang hanya melambaikan tangan dari kejauhan sebelum beranjak pergi. Saat itulah saya mulai merasakan sesuatu yang aneh. Beberapa hari sebelumnya kami bahkan tidak saling mengenal. Kami datang sebagai orang-orang asing dari puluhan negara dengan latar belakang, bahasa, dan cerita hidup yang berbeda. Namun mengapa ketika perpisahan itu benar-benar tiba, rasanya seperti sedang melepas seseorang yang telah lama dikenal?

 

Saya, Usman Arif Habibi, memulai perjalanan di IMLF-4 dengan semangat dan harapan yang besar. Di balik keinginan untuk berkontribusi sebagai volunteer, saya juga memiliki tujuan pribadi, yaitu berlatih bahasa Inggris dan memperluas lingkaran pertemanan. Bahkan sebelum kegiatan dimulai, saya telah menetapkan target yang mungkin terdengar cukup ambisius, yakni mengenal lebih dari seratus orang baru selama bulan Juni.

 

Menariknya, target itu tercapai jauh lebih cepat dari yang saya bayangkan. Namun yang saya peroleh ternyata jauh lebih berharga daripada sekadar menambah daftar nama atau akun media sosial. Saya tidak hanya mengenal orang-orang baru, tetapi juga menemukan cerita, pengalaman, dan hubungan yang meninggalkan kesan mendalam. Beberapa di antaranya memberikan perhatian yang begitu tulus, hingga saya lupa bahwa posisi kami sebenarnya hanya peserta dan volunteer yang dipertemukan oleh sebuah acara.

 

Bukankah biasanya selalu ada batas yang memisahkan? Perbedaan bahasa, budaya, usia, negara, bahkan status dalam sebuah kegiatan sering kali menciptakan jarak yang tidak terlihat. Namun selama IMLF-4 berlangsung, batas-batas itu terasa runtuh dengan sendirinya. Obrolan singkat berubah menjadi percakapan panjang. Sapaan sederhana berkembang menjadi kedekatan yang tidak direncanakan. Orang-orang yang awalnya asing perlahan terasa seperti keluarga.

 

Di balik itu semua, saya juga belajar menjadi orang lapangan yang sesungguhnya. Saya belajar bahwa mengelola kegiatan tidak hanya soal menyusun konsep atau menyelesaikan administrasi. Mengelola manusia jauh lebih menantang. Percaya atau tidak, terkadang menghadapi sesama orang Indonesia justru lebih sulit dibandingkan berinteraksi dengan peserta dari luar negeri. Namun di situlah letak pelajarannya. Saya belajar memahami berbagai karakter, belajar bersabar menghadapi berbagai situasi, dan belajar bahwa keramahan sering kali menjadi solusi yang tidak pernah diajarkan dalam buku.

 

Pelajaran terbesar datang pada hari terakhir kegiatan. Saat itu kami menghadapi sebuah agenda besar yang dihadiri lebih dari 1.700 Bundo Kanduang dan peserta yang mengenakan busana adat Minangkabau dari berbagai daerah. Sementara itu, jumlah petugas lapangan yang harus mengatur situasi tidak sampai sepuluh orang. Situasi berlangsung padat, melelahkan, dan penuh tekanan. Namun anehnya, justru di tengah kondisi itulah saya merasakan kekuatan kerja sama yang sesungguhnya. Pada titik itu saya menyadari bahwa tertawa di tengah kelelahan adalah salah satu bentuk tertinggi dari menikmati sebuah proses.

 

Di sela-sela kesibukan tersebut, saya juga berkesempatan bercengkerama dengan para delegasi dari berbagai negara. Setiap percakapan membuka jendela baru tentang dunia yang lebih luas. Saya mendengar cerita tentang budaya, pendidikan, perjalanan hidup, dan pengalaman yang sebelumnya hanya saya baca melalui buku atau media sosial. Bagi saya, inilah bentuk literasi yang paling hidup, belajar langsung dari manusia.

 

Menariknya, IMLF-4 juga membawa saya kembali pada kenangan lama tentang Bukittinggi. Kota itu pernah menyimpan cerita yang tidak sepenuhnya berakhir dengan baik dalam hidup saya. Namun kali ini, melalui perjumpaan-perjumpaan baru yang terjadi selama festival, saya menemukan kenangan baru yang jauh lebih hangat. Seolah-olah IMLF membantu saya melihat tempat yang sama dengan sudut pandang yang berbeda.

Lalu tibalah momen yang paling membekas dalam ingatan saya, Bandara Internasional Minangkabau.

 

Sebagaimana bandara pada umumnya, tempat itu selalu menjadi saksi berbagai perpisahan. Pelukan yang erat, tangisan yang tulus, serta lambaian tangan yang seolah tidak ingin berakhir. Ada keluarga yang mengantar anaknya, ada orang tua yang melepas anak-anaknya, dan ada orang-orang yang mungkin harus menunggu bertahun-tahun untuk dapat berjumpa kembali.

 

Saat mengantar para delegasi menuju gerbang keberangkatan, saya merasakan suasana yang serupa. Kami tidak lagi berdiri sebagai volunteer dan peserta. Kami berdiri seperti keluarga yang sedang mengantar anggota keluarganya pulang. Foto demi foto terus diambil mewarnai moment tersebut. Pelukan demi pelukan terus diberikan. Harapan untuk bertemu kembali terus diucapkan. Bahkan beberapa peserta sengaja meninggalkan barang-barang kecil sebagai kenang-kenangan, seolah berharap benda itu akan menjadi alasan untuk kembali suatu hari nanti.

 

Pada saat itulah saya menyadari bahwa IMLF-4 tidak hanya mempertemukan orang-orang dari berbagai negara. Festival ini mempertemukan hati, cerita, dan pengalaman yang mungkin tidak akan pernah bersinggungan jika kegiatan ini tidak pernah ada.

 

Saya datang sebagai volunteer. Namun saya pulang dengan pengalaman yang rasanya setara dengan peserta. Saya belajar, saya bertumbuh, saya bertemu banyak orang luar biasa, dan saya membawa pulang kenangan yang akan sulit dilupakan.

 

Pada akhirnya, mungkin inilah alasan saya menulis kisah ini. Sebab tidak semua perjumpaan dapat diabadikan dalam foto, dan tidak semua kenangan mampu disimpan oleh ingatan. Maka biarlah tulisan ini menjadi secarik kenangan yang abadi, tentang lima hari yang terasa singkat, tentang orang-orang yang datang sebagai orang asing lalu pergi sebagai keluarga, dan tentang sebuah festival bernama IMLF-4 yang meninggalkan jejak yang akan selalu saya kenang.

 

Terima kasih kepada seluruh panitia, volunteer, peserta, delegasi, sponsor, mitra, dan semua pihak yang telah berkontribusi menyukseskan IMLF-4. Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita yang akan terus hidup dalam ingatan saya.

 

Dingin jo sajuaknyo Tabiang Barasok

Kabuik turun di waktu pagi

Bia pun kito bisuak indak basobok

Di lain maso kito bajumpo lai

 

Bukittinggi, 7 Juni 2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *