Oleh: Ramli Jafar (Anggota Satupena Sumbar)
TERGERUS (1)
Minangkabau
Identik dengan dunia sastra
Miliki khasanah kesusastraan
Terpelihara
Terjaga
Teruji
Sejak dari dulunya
Bahkan
Di hidup sehari-hari
Gunakan bahasa nan indah
Tahun 1956
Disaat peresmian pendirian Universitas Andalas
Oleh DR M.Hatta Wapres RI
Terbesit keinginan para Tokoh Nasional berdarah Minangkabau
Hamka
Prof DR Bahder Johan
Dipandang perlu
Dibutuhkan
Fakultas Sastra di Universitas Andalas
Sudahkah hal ini berikan hasil ?
Adakah berkesinambungan ?
Jangan sampai tergerus oleh zaman
TERGERUS (2)
Sastra adalah budaya
Tiada terpisah
Satu kesatuan
Di hati
Di hidup insan dunia
Minangkabau
Latar belakang budayanya
Mewarnai
Menghidupi
Dunia sastra
Masyarakat Minangkabau
Pelaku sastra kehidupan
Pituah
Petatah petitih
Dan sebagainya
Fakultas Sastra
Berganti nama Fakultas Ilmu Budaya
Harus ambil peran
Tiada tujuan melahirkan Sastrawan
Melainkan
Sebagai Pengkaji
Kritikus Sastra
Pada saatnya
Jadi nyata di IMLF
International Minangkabau Literacy Festival
22 – 27 Februari 2023
Berpuncak di Baso
Kabupaten Agam
TERGERUS (3)
Dunia makin berkembang
Iringi berbagai perubahan
Tuntutan
Gaya hidup
Tiada dipungkiri
Punya tempat yang strategis
Mahasiswa
Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya
Datang dari berbagai tempat
Latar belakang yang berbeda
Kemampuan yang tiada sama
Bahkan
Lebih diluar dugaan
Ada yang berbakat menulis
Dan
Atau
Mencipta sastra
Jangan biarkan percuma
Ciptakan atmosfir baru
Jangan hanya lahirkan Kritikus Sastra
Tetapi
Lahirkan juga Sastrawan
Yang berkarya
Yang produksi segala karya sastra
TERGERUS (4)
Paparan nara sumber
Diskusi yang alot
Panjang
Bermutu
Lahirkan kesamaan pandangan
Kuantitas Sastrawan
Produksi sastra Sumatera Barat
Tidak berkurang
Tiada tergerus
Tetapi
Secara kualitas
Ya
Dan
Benar
Indikatornya
Nyaris tiada tercatat
Sastrawan asal Sumatera Barat ditingkat Nasional
Indonnesia merindukan
Sastrawan selevel Abdul Muis
Marah Rusli
Sutan Takdir Alisyahbana
Hamka
Navis
Wisran Hadi
Khairil Anwar
Umar Ismail
Taufik Ismail
Hadir kembali
Berkarya kembali
Seperti pada masanya
TERGERUS (5)
Media cetak
Adalah media sastra
Adakah semua masih berkesinambungan ?
Masih adakah kolom sastra di media masa ?
Ada
Tetapi sangat jauh berkurang
Tiada lagi prioritas
Biaya penerbitan mahal
Kiprah daerah jauh dari pusat
Peran pemerintah yang minim
Edukasi pembaca yang niscaya
Kurangnya sayembara
Terlebih-lebih
Kurangnya peran Fakultas Sastra
Beri ruang gerak
Ciptakan
Lahirkan Sastrawan berkualitas
Ada pandangan yang salah
Fakultas Sastra bukan pencetak Sastrawan
Bila itu yang terjadi
Kritikus yang kompeten
Tidak akan pernah ada
Tidak akan lahir dari rahim Fakultas Satra
Camkanlah ini
Fakultas Ilmu Budaya
Harus ambil peran
Mesti bersikap aktif
Berbuat
Dan
Berkarya
TERGERUS (6)
Inisiatif Dekan FIB Unand 2017 -2021
Hibah penelitian penciptaan sastra
Penelitian ilmiah produk
Novel
Drama
Puisi Esai
Film Cerita
Film Dokumenter
Perlu
Dan
Terus dilanjutkan
Kebijakan tugas akhir mahasiswa
Ataupun
Mahasisiwi
Tidak hanya dibatasi pada Skripsi Kritik Sastra
Tetapi
Juga perlu karya
Sebagai apresiasi diri
Perlu dimunculkan kembali
Namun
Semuanya kandas ditengah jalan
Tiada pernah jadi Peraturan Akademik
Dianulir
Dibatalkan
Oleh anggota Senat Fakultas sendiri di tingkat Universitas
Padahal
Paradigma MBKM
Merdeka Belajar Kampus Merdeka
Beri peluang
Beri kesempatan yang luas
TERGERUS (7)
Rekonsiliasi Kurikulum
Sangat diperlukan
Fakultas Ilmu Budaya
Ambil peran bermakna
Jadikan produksi sastra
Orientasinya
Catatkan kompetensi kelulusan
Penciptaan
Pengkajian
Pendukung kompetensi
Perlu perangkat perangkat akademik
Pengawal karya sastra
Ciptaan Mahasiswa
Karya Mahasiswi
Miliki kualitas yang terukur
Inilah peran Fakultas Ilmu Budaya
Dengan produksi sastra
Di Ranah Minangkabau
Sumatera Barat
raja 211222

