Oleh: Gusra Farnita (guru SDN 16 VII Koto Sungai Sarik Kabupaten Padang Pariaman)
“Kami akrab dengan sunyi.”
Kalimat itu sering membuat orang mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin sebuah sekolah akrab dengan sunyi? Bukankah sekolah identik dengan riuh tawa anak-anak yang berlarian di halaman? Namun, itulah keseharian saya di SDN 16 VII Koto Sungai Sarik, sebuah sekolah dasar di pedalaman Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Untuk sampai ke sekolah, saya harus menempuh perjalanan sekitar dua belas kilometer melewati jalan berbatu, menyeberangi sungai, lalu mendaki perbukitan. Perjalanan yang sama juga ditempuh sebagian besar peserta didik kami setiap pagi. Sekolah kami hanya memiliki lima puluh peserta didik. Di beberapa kelas hanya ada dua atau tiga anak, sedangkan kelas terbesar berjumlah dua belas orang. Perpustakaan kami sederhana, banyak buku yang mulai usang, dan internet belum menjangkau sekolah.
Dulu saya menganggap semua itu sebagai kekurangan. Saya sering membandingkan sekolah kami dengan sekolah-sekolah yang memiliki laboratorium lengkap, perpustakaan modern, dan jaringan internet yang cepat. Rasanya kami selalu berada beberapa langkah di belakang. Sampai suatu hari saya menyadari bahwa kami memiliki sesuatu yang tidak selalu dimiliki sekolah besar yaitu waktu.
Waktu untuk mengenal setiap anak. Waktu untuk mendengar cerita mereka. Waktu untuk mengetahui siapa yang datang ke sekolah setelah membantu orang tua di sawah, siapa yang harus menyeberangi sungai ketika air mulai meninggi, dan siapa yang diam-diam menyimpan mimpi besar meski jarang mengucapkannya. Kesadaran itu mengubah cara saya memandang pembelajaran. Saya tidak lagi mengejar seberapa banyak halaman buku yang selesai dipelajari. Saya mulai bertanya, “Apakah anak-anak benar-benar memahami apa yang mereka pelajari? Apakah pelajaran itu bermakna bagi kehidupan mereka?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu membawa saya pada satu keyakinan bahwa pembelajaran yang baik bukan hanya membuat anak mengetahui sesuatu, tetapi membantu mereka mengenali dirinya sendiri. Saya pernah mendampingi seorang siswa yang awalnya hanya mampu menulis dua kalimat sederhana. Ia pemalu dan lebih sering menundukkan kepala ketika diminta berbicara di depan kelas.
Alih-alih langsung meminta anak-anak menulis cerita, saya mengajak mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mewawancarai orang tua dan kakek-nenek. Mereka mendengarkan kisah tentang surau, sawah, permainan tradisional, cerita rakyat, hingga petuah-petuah Minangkabau yang mulai jarang terdengar. Mereka tidak mencari cerita di internet karena memang internet belum tersedia. Mereka mencarinya langsung dari orang-orang yang selama ini hidup bersama mereka. Ketika kembali ke sekolah, setiap anak membawa cerita yang berbeda. Mereka saling membacakan hasil tulisannya, berdiskusi, saling memberi masukan, lalu memperbaikinya sedikit demi sedikit.
Beberapa bulan kemudian, salah seorang siswa kami berhasil menjadi juara lomba menulis cerita rakyat dan melaju hingga tingkat nasional. Banyak orang melihat pialanya. Saya justru lebih bangga pada proses yang mengantarkan piala itu hadir. Anak yang dulu malu berbicara kini percaya bahwa kisah dari kampungnya layak didengar oleh Indonesia. Di kesempatan lain, kami membuat peta sederhana nagari menggunakan karung goni bekas. Anak-anak menggambar sungai, sawah, bukit, mata air, rangkiang, dan kebun obat yang mereka kenal sejak kecil. Mereka belajar geografi, bahasa, seni, sekaligus memahami bahwa kampung halaman bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang belajar yang menyimpan pengetahuan.
Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, kami juga duduk melingkar di lantai kelas. Tidak ada meja guru. Tidak ada kursi paling depan. Kami hanya saling mendengarkan. Ada anak yang bercerita tentang panen padi, ada yang takut menyeberangi sungai ketika hujan, ada pula yang bahagia karena berhasil membantu orang tuanya. Dari percakapan sederhana itu saya belajar bahwa pendidikan tidak selalu dimulai dari buku, melainkan dari keberanian anak untuk menyampaikan suaranya dan keyakinan bahwa ada orang yang bersedia mendengarkannya. Saya sering berpikir, seandainya dulu saya hanya berfokus menyelesaikan buku paket, mungkin anak-anak memang akan mendapatkan nilai yang baik. Namun saya belum tentu mengenal siapa mereka sebenarnya.
Kini saya percaya bahwa pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala peserta didik. Pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia. Pembelajaran yang mendalam ternyata tidak selalu membutuhkan teknologi yang canggih. Ia lahir ketika guru hadir sepenuhnya, memahami dunia anak, dan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan nyata. Barangkali Indonesia tidak hanya dibangun dari ruang-ruang besar di kota. Ia juga sedang tumbuh perlahan di ruang kelas kecil yang berdiri di seberang sungai. Di sana hanya ada sepuluh kursi kecil.
Namun setiap hari, di atas kursi-kursi itulah anak-anak belajar mencintai negerinya, menghargai budayanya, berani menulis kisahnya sendiri, dan percaya bahwa mimpi sebesar apa pun dapat berawal dari sekolah yang sederhana. Mungkin, dari ruang kelas yang hampir kosong itulah masa depan Indonesia sedang disiapkan. ***

