Oleh: YURNALDI (Wartawan Utama, Penulis dan Editor Puluhan Buku, Sastrawan, Mentor Jurnalistik dan Sastra, Konsultan Literasi)
Di tengah tradisi penulisan tentang Nahdlatul Ulama (NU) yang kerap bertumpu pada tokoh besar dan keputusan elite, buku Orang Minang Meliput Muktamar NU karya Armaidi Tanjung hadir dengan pendekatan berbeda: ia memilih berdiri di pinggir.
Buku ini tidak menawarkan analisis akademik yang rumit, juga tidak menyajikan kronik resmi organisasi. Ia adalah catatan seorang wartawan daerah—kontributor media—yang mengikuti tiga muktamar NU (Makassar 2010, Jombang 2015, Lampung 2021) dengan satu naluri sederhana: merekam apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan.
Kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatan buku ini.
Dari Sudut yang Terabaikan
Selama ini, muktamar NU lebih sering dilihat sebagai panggung besar: arena pengambilan keputusan, pertarungan gagasan, dan dinamika kepemimpinan. Yang muncul ke publik adalah hasil sidang, nama tokoh, serta arah organisasi ke depan.
Namun, di balik semua itu, ada kehidupan lain yang jarang tercatat. Armaidi Tanjung membawa pembaca ke wilayah tersebut.
Ia menulis tentang peserta yang datang dari jauh dengan perjalanan melelahkan, pedagang kecil yang menggantungkan harapan pada keramaian muktamar, hingga suasana informal yang membentuk wajah peristiwa itu sendiri. Dalam salah satu catatan, tergambar bagaimana peserta memilih beristirahat di masjid setelah lelah mengikuti sidang, atau jatuh sakit akibat perjalanan panjang.
Narasi semacam ini memberi dimensi manusiawi pada muktamar. Ia mengingatkan bahwa peristiwa besar tidak hanya dibentuk oleh keputusan di ruang sidang, tetapi juga oleh ribuan individu yang hadir dengan pengalaman dan latar belakang berbeda.
Perspektif Daerah yang Jarang Muncul
Sebagai wartawan asal Sumatera Barat, penulis membawa perspektif yang relatif jarang dalam literatur NU. Sejarah NU sering kali ditulis dari pusat, dengan Jawa sebagai titik gravitasi utama. Buku ini memperlihatkan bagaimana NU dilihat dari daerah yang tidak selalu menjadi basis dominan organisasi tersebut.
Pengalaman penulis sebagai kontributor media juga membuka sisi lain dunia jurnalistik. Ia menggambarkan bagaimana kontributor daerah bekerja dengan segala keterbatasan, tetapi tetap menjadi bagian penting dalam aliran informasi. Dalam konteks ini, buku ini tidak hanya berbicara tentang NU, tetapi juga tentang praktik jurnalisme itu sendiri.
Ada kesadaran bahwa informasi nasional kerap bertumpu pada kerja lokal yang tidak selalu mendapat pengakuan setara.
Catatan yang Jujur
Kekuatan lain buku ini terletak pada kejujurannya. Penulis tidak menempatkan diri sebagai tokoh utama yang heroik. Ia justru tampil sebagai bagian kecil dari peristiwa besar. Ia mencatat bagaimana ia mencari biaya perjalanan, berinteraksi dengan peserta, bahkan merasakan jarak dengan sebagian pengurus.
Pilihan untuk bertutur apa adanya membuat buku ini terasa dekat. Pembaca tidak dihadapkan pada narasi yang dibuat-buat, melainkan pengalaman yang mengalir secara natural.
Dalam konteks dokumentasi, catatan seperti ini memiliki nilai tersendiri. Ia bisa menjadi sumber alternatif untuk memahami muktamar, melengkapi catatan resmi yang sering kali lebih formal dan terbatas.
Keterbatasan sebagai Catatan
Namun, buku ini juga menunjukkan sejumlah keterbatasan.
Pertama, dari segi struktur, buku ini terasa seperti kumpulan catatan yang disusun berdasarkan kronologi, tanpa kerangka narasi yang kuat. Transisi antarbagian tidak selalu mulus, sehingga pembaca harus merangkai sendiri benang merah keseluruhan cerita.
Kedua, pendekatan yang dominan deskriptif membuat buku ini kurang menggali lapisan analitis. Banyak peristiwa penting disampaikan sebagai laporan kejadian, tanpa diikuti pembacaan lebih dalam mengenai makna dan implikasinya.
Padahal, pengalaman langsung penulis sebenarnya memberi peluang untuk menghadirkan refleksi yang lebih tajam tentang muktamar sebagai ruang sosial, bahkan politik.
Ketiga, konflik yang sesekali muncul dalam narasi tidak dikembangkan secara memadai. Beberapa ketegangan hanya disinggung sepintas, sehingga tidak memberikan kedalaman yang cukup bagi pembaca untuk memahami dinamika yang lebih luas.
Penting sebagai Perspektif
Terlepas dari keterbatasan tersebut, buku ini tetap memiliki arti penting. Ia menghadirkan perspektif yang selama ini kurang mendapat tempat: suara dari pinggir.
Dalam banyak kasus, sejarah organisasi cenderung didominasi oleh suara pusat. Buku ini menjadi pengingat bahwa pengalaman daerah juga merupakan bagian dari sejarah itu sendiri.
Selain itu, buku ini juga relevan bagi dunia jurnalistik. Ia menunjukkan bahwa kerja kontributor bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian integral dari proses produksi informasi.
Penutup
Orang Minang Meliput Muktamar NU bukanlah buku yang menawarkan analisis mendalam atau struktur narasi yang rapi. Namun, ia memberikan sesuatu yang tidak kalah penting: keaslian pengalaman.
Di tengah kecenderungan melihat peristiwa besar dari sudut pandang elite, buku ini mengajak pembaca untuk menengok sisi lain—yang lebih sederhana, tetapi juga lebih dekat dengan realitas.
Dalam kesederhanaannya, buku ini mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh keputusan besar, tetapi juga oleh cerita-cerita kecil yang sering luput dari perhatian.
Dan justru dari sanalah, pemahaman yang lebih utuh dapat dimulai.
Padang, 1 Mei 2026

