Menulis Gerakan, Menjaga Ingatan: Catatan atas Buku Sejarah PMII Sumatera Barat

Oleh: Hardiansyah Padli (Dosen FEBI UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi/Alumni PMII Kota Bukittinggi/Aktifis PMII Kota Bukittinggi-2011-2015)

Pada beberapa waktu yang lalu saya diberi amanah sebagai pembedah buku 18 Tahun Jejak dan Dinamika PMII di Sumatera Barat (2006–2024). Dalam forum itu saya mengajak peserta untuk mengubah cara pandang terhadap buku ini. Ia tidak layak dibaca sekadar sebagai laporan kegiatan organisasi atau tumpukan dokumen yang selesai dikonsumsi lalu diletakkan di rak. Buku ini perlu ditempatkan sebagai kerja menjaga ingatan yakni sebagai upaya sadar menulis gerakan agar sejarahnya tidak tercerabut dari generasi berikutnya.

Sebab setiap gerakan, sekuat apa pun, akan rapuh jika hanya hidup dalam ingatan lisan. Ingatan manusia terbatas; tulisanlah yang memberi daya tahan pada sejarah. Karena itu buku ini lebih tepat dibaca sebagai ruang refleksi: tempat kita membaca ulang bait-bait perjuangan yang telah ditorehkan para pendahulu organisasi di Sumatera Barat. Ia bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan jembatan yang menghubungkan pengalaman sejarah dengan tanggung jawab masa depan.

Dengan perspektif demikian, buku ini mengingatkan kita pada persoalan yang lebih luas: dinamika gerakan mahasiswa sering bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita mengingatnya. Pergantian kepengurusan, perubahan isu, hingga regenerasi kader berlangsung dalam tempo yang nyaris tanpa jeda. Pergerakan yang begitu cepat itu kerap melampaui ingatan kolektif terhadap gerakan itu sendiri.

Karena banyaknya peristiwa yang mewarnai perjalanan gerakan mahasiswa dari waktu ke waktu, dibutuhkan ikhtiar sadar untuk mencatatnya secara utuh agar setiap denyut gerakan dapat terdokumentasi. Ingatan yang tidak dituliskan akan mudah menguap. Sebaliknya, gerakan yang didokumentasikan memiliki peluang untuk bertahan melampaui zamannya. Di sinilah menulis menjadi kerja strategis: ia merekam, menyimpan, sekaligus mengabadikan.

Menulis sebagai tindakan intelektual

Imam al-Ghazali pernah mengingatkan, “Jika kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” Pesan ini menegaskan arti penting aktivitas menulis sebagai jalan menuju kemuliaan intelektual. Menulis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan laku peradaban: ia menempatkan seseorang dalam arus panjang sejarah pemikiran.

Menulis adalah proyek menuju keabadian. Banyak penulis telah wafat, tetapi gagasan mereka terus hidup, dibaca, diperdebatkan, dan diwariskan. Tubuh boleh hilang, tetapi pikiran yang dituliskan menemukan cara untuk tetap hadir di tengah generasi-generasi berikutnya.

Bagi aktivis mahasiswa, menulis adalah ruh gerakan. Ketika tradisi menulis melemah, gerakan kehilangan daya pantul intelektualnya. Organisasi yang tidak menuliskan dirinya sendiri perlahan akan kehilangan narasi tentang eksistensinya. Bagaimana sebuah gerakan akan dikenali publik jika geliatnya tidak pernah diartikulasikan? Bagaimana seorang aktivis akan disebut intelektual jika gagasannya tidak pernah dituangkan secara tertulis?

Menulis juga memaksa kita membaca. Dari sini lahir siklus pengetahuan yang sehat: membaca sebagai input, menulis sebagai output. Aktivisme tanpa tradisi baca-tulis mudah terjebak pada rutinitas seremonial tanpa kedalaman gagasan. Karena itu, menulis bukan sekadar dokumentasi; ia adalah upaya memberi makna pada pengalaman, sekaligus tanggung jawab terhadap sejarah.

Makna kehadiran buku ini

Buku ini adalah bentuk penyelamatan memori gerakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di Sumatera Barat. Melalui kerja penulisan tersebut, bang Armaidi Tanjung berusaha merangkai serpihan kisah perjalanan organisasi dari fase ke fase. Ikhtiar ini patut diapresiasi sebagai keberanian untuk memulai tradisi dokumentasi.

Terlepas dari kemungkinan perbedaan tafsir mengenai detail sejarah awal gerakan, langkah pencatatan tetap memiliki nilai strategis. Buku ini memperlihatkan bagaimana fase kevakuman, kebangkitan kembali, hingga konsolidasi organisasi berlangsung di ranah Minang. Yang paling penting, ia mengirim pesan tegas: gerakan yang tidak dicatat berisiko terputus dari ingatan generasi berikutnya.

Dengan demikian, buku ini bukan sekadar rekaman masa lalu. Ia adalah jembatan antar generasi. Ia memberi peluang bagi kader hari ini untuk berdialog dengan pendahulunya, bukan melalui nostalgia, tetapi melalui pembacaan kritis terhadap sejarahnya sendiri.

Surat, tulisan, dan perlawanan sunyi

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan sering berawal dari tulisan. Soekarno menggerakkan kesadaran kebangsaan melalui teks dan pidato. R. A. Kartini menyalakan kritik sosial melalui surat-surat yang dibaca lintas zaman. Tulisan menjadi bentuk perlawanan sunyi: tidak selalu riuh di jalan, tetapi bekerja perlahan membentuk kesadaran.

Dalam konteks gerakan mahasiswa, menulis adalah bentuk keberanian intelektual. Ia memastikan perjuangan tidak berhenti sebagai peristiwa sesaat, tetapi berkembang menjadi wacana yang terus hidup. Peristiwa bisa selesai dalam sehari; tulisan membuatnya terus berdialog dengan masa depan. Di sinilah gerakan menemukan umur panjangnya.

 

Penutup

Pada akhirnya, buku ini mengingatkan kita bahwa sejarah organisasi tidak pernah berdiri sendiri. Ia hanya akan bertahan sejauh ada kesadaran untuk menuliskannya. Tanpa tradisi dokumentasi, gerakan mudah terputus dari akarnya; dengan tulisan, ia menemukan kesinambungan.

Kehadiran buku ini, tidak boleh berhenti sebagai perayaan nostalgia. Ia harus dibaca sebagai panggilan etis bagi generasi sekarang: melanjutkan tradisi mencatat, merefleksikan, dan menafsir ulang perjalanan gerakan. Setiap generasi memikul tanggung jawab yang sama yaitu menjaga agar ingatan kolektif tidak hilang ditelan waktu.

Menulis gerakan berarti merawat sejarahnya. Dan merawat sejarah adalah cara paling sunyi namun paling kuat untuk memastikan sebuah gerakan tetap hidup, bahkan ketika para pelakunya telah berganti zaman. Di situlah menulis menemukan maknanya yang paling dalam: menjaga ingatan agar gerakan tidak pernah benar-benar hilang. ***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *